Merajut Karakter di Era Digital: Dialog Radio Suara RH Soroti Integrasi Nilai Islam dan Teknologi

News

Gorontalo – Radio Suara RH (Rakyat Hulontalo) menggelar dialog interaktif yang bertajuk “Reformasi Pendidikan Islam di Era Digital” bersama dua narasumber dari FITK, IAIN Smart, Rabu (28/1/2026). Acara yang dipandu oleh host Ian Sebastian ini menghadirkan Prof. Dr. H. Arten H. Mobonggi, M.Pd., selaku Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) IAIN Sultan Amai Gorontalo (Smart) dan Alvons Habibie, M. Pd., Sekretaris Program Studi Tadris Bahasa Inggris FITK. Dialog ini mengupas secara mendalam tantangan dan strategi pendidikan Agama Islam dalam merespons perkembangan teknologi.

Dalam paparannya, Prof. Dr. H. Arten H. Mobonggi, M.Pd., menekankan bahwa IAIN Sultan Amai Gorontalo berkomitmen kuat untuk terus menjaga nilai-nilai, etika, dan budi luhur Islami. “Ini adalah fondasi untuk menciptakan karakter mahasiswa yang memiliki akhlak dan religiositas yang mumpuni dalam menghadapi era digital yang semakin pesat,” tegasnya. Lebih lanjut, beliau menekankan bahwa ‘Akhlak Digital’ dewasa ini adalah sebuah keniscayaan yang patut diintegrasikan dalam kurikulum dan budaya kampus. Menurutnya, kecerdasan spiritual dan moral harus menjadi benteng agar kemajuan teknologi tidak mengikis identitas dan nilai-nilai luhur peserta didik. Sementara itu, Alvons Habibie, dari perspektif program studi, menyoroti pentingnya adaptasi metode dan media pembelajaran. Ia menyampaikan bahwa pemanfaatan alat digital dalam pengajaran bahasa Inggris maupun ilmu keislaman dapat meningkatkan engagement dan reach kepada generasi milenial. Kolaborasi antara penguatan akhlak dan penguasaan teknologi, menurutnya, akan melahirkan lulusan yang tidak hanya kompeten secara akademik dan profesional tetapi juga berkarakter kuat dan beretika dalam ruang digital.

Dialog yang berlangsung hidup ini diharapkan dapat memberikan perspektif segar bagi pendengar, terutama para pendidik dan orang tua, dalam menyiapkan generasi yang siap menghadapi dinamika zaman tanpa kehilangan jati diri keislamannya.