Gorontalo, 8 November 2024 — Jurusan Tadris Bahasa Inggris (TBI), Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK), IAIN Sultan Amai Gorontalo menggelar kegiatan Pelatihan Storytelling pada Jumat (8/11/2024). Kegiatan ini dilaksanakan di Aula FITK mulai pukul 16.00 WITA hingga selesai dan dihadiri oleh dosen serta mahasiswa Jurusan TBI.
Pelatihan ini menghadirkan salah satu dosen TBI, Titin Suhartini Kaaba, M.Pd., sebagai pemateri. Kegiatan tersebut menjadi salah satu bentuk upaya jurusan dalam mengembangkan keterampilan mahasiswa menggunakan bahasa Inggris, khususnya dalam menyampaikan cerita secara lisan.

Storytelling merupakan keterampilan yang memadukan kemampuan berbahasa, kreativitas, ekspresi, dan penguasaan materi untuk menyampaikan sebuah cerita secara menarik kepada pendengar. Dalam pembelajaran bahasa Inggris, keterampilan ini memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mempraktikkan bahasa secara langsung.
Melalui pelatihan ini, mahasiswa diharapkan dapat mengembangkan kelancaran berbicara, pengucapan, penggunaan kosakata, serta kemampuan menyusun kalimat yang sesuai dengan konteks cerita. Selain aspek kebahasaan, storytelling juga melatih kepercayaan diri dan kemampuan berkomunikasi di depan audiens.
Dalam praktiknya, penyampaian cerita yang menarik membutuhkan perhatian terhadap intonasi, ekspresi wajah, bahasa tubuh, dan alur cerita agar pesan dapat dipahami dengan baik oleh pendengar. Keterampilan tersebut juga relevan bagi mahasiswa TBI sebagai calon pendidik bahasa Inggris yang nantinya perlu menyampaikan materi pembelajaran secara kreatif dan komunikatif.

Pelaksanaan pelatihan ini diharapkan dapat memberikan pengalaman belajar yang lebih variatif bagi mahasiswa TBI. Keterampilan yang dikembangkan melalui kegiatan tersebut juga dapat menjadi bekal bagi mahasiswa dalam mengikuti perlombaan, melaksanakan praktik mengajar, maupun menerapkan metode pembelajaran bahasa Inggris yang kreatif.
Melalui kegiatan Pelatihan Storytelling, Jurusan Tadris Bahasa Inggris terus mendorong pengembangan kompetensi mahasiswa, tidak hanya dalam penguasaan teori kebahasaan, tetapi juga dalam penerapan keterampilan berbahasa secara praktis. Dengan demikian, mahasiswa diharapkan mampu menjadi calon pendidik bahasa Inggris yang komunikatif, kreatif, dan percaya diri.
